Thursday, July 29, 2010

Kisah seorang hamba...

Ada seorang hamba Allah, beliau rajin sholat malam dan bermunajat, berkhalwat dengan Al Kholiq. Setiap malam dari kedua matanya yang memerah karena menangis, mengalir air yang membasahi anggutnya, beliau berbisik-bisik lirih memohon beberapa permintaan dan pengharapan. Dari waktu ke waktu, tahun ke tahun, hingga putih rambutnya tak kunjung jua permintaan beliau di kabulkan oleh Allah.

Permintaannya (diantaranya) adalah agar segera diangkat kemiskinan yang menjadi selimut kehidupannya selama ini, keluarganya sering sakit-sakitan, setiap hari ia keluar untuk berusaha memperoleh rizqi Allah tapi tidaklah tampak di lapangkan rizqi itu untuknya. Padahal dahulu, ketika ia masih bekerja menjadi petugas bea cukai uang dan kesenangan adalah kawan akrab. Hingga suatu saat ia mendengarkan ceramah yang menjelaskan bahwa penyelewengan yang sering ia lakukan selama ini dengan kawan-kawannya adalah Haram dan tidak membawa keberkahan, kelak penyelewengan ini akan berhadapan dengan hukum Allah yang tidak bisa dibantah lagi di Akhirat. Bergetar hatinya, masuk hidayah Allah atasnya.

Sejak itu tidak pernah lagi ia melakukan perbuatan tersebut, semakin rajin ia melakukan sholatul Lail mengadukan nasibnya hanya kepada Allah, agar diberikannya harta yang halal dan rizqi yang lapang dalam menghadapi hidup ini. Namun berangsur-angsur seakan terkena kualat (karena meninggalkan perbuatan haram itu) penghasilannya semakin menurun, beliau sekeluarga sering sakit dan menjadikan badannya yang sehat menjadi semakin kurus, anak satu-satunya meninggal setelah menjalani perawatan selama beberapa minggu di rumah sakit. Sampai saat itu ia masih bersabar, tak pernah terucap dari mulutnya kata-kata keluhan dan makian atas apa yang menimpa hidupnya. Malahan menjadikannya semakin sering dan khusyu' ia mendekatkan diri kepada Allah.

Dan malang yang tidak kunjung padam terhadapnya,korupsi yang dahulu ia lakukan bertahun silam terungkap, maka ia dan beberapa orang rekannya terkena pemecatan dengan tidak hormat. Subhanallah semakin berat rasanya hidup ini baginya. Tambah satu kalimat panjang di malam harinya ia mengadu kehadapan Robbnya, menangis dan perih rasa bathinnya. Setiap dalam sedihnya ia berdo'a, selalu ada bisikan lirih di hatinya,

"Apa yang engkau harapkan tu dekat sekali, bila engkau bertaqwa!"

Setiap mendengar bisikan itu, timbul semangatnya. Kini setelah ia di pecat,ia berdagang. Baginya dagang yang tidak pernah untung, hutang yang semakinbertumpuk, mushibah yang seakan tidak berujung....ahhhh.

Setelah puluhan tahun kedepan sejak ia dekat dengan Allah setiap malamnya,tidak juga merobah hidupnya. Sejak puluhan tahun ia mendengar bisikan diatas, tidak juga tampak yang di janjikanNya.
Mulailah timbul pemikiran tidak baik dari syaithon. Hingga beliau berkesimpulan, tampaknya Allah tidak ridho terhadap do'anya selama ini. Maka pada malam harinya, ia berdo'a kepada Allah :

"Wahai Allah Yang Menciptakan Malam dan Siang, Yang dengan mudah menciptakan diriku yang sempurna ini. Karena Engkau tidak mengabulkan permintaanku hingga saat ini, mulai besok aku tidak akan meminta dan sholat lagi kepadaMu, aku akan lebih rajin berusaha agar tidaklah harus beralasan bahwa semua tergantung dariMu. Ma-afkan aku selama ini, ampuni aku selama ini menganggap bahwa diriku sudah dekat denganMu !"

Beliau tutup do'a beliau dengan perasaan berat yang semakin dalam dari awal ia berniat seperti itu (: mengkhatamkan 'ibadah sholat lailnya). Beliau berbaring dengan pemikiran menerawang hingga ia tak
mengetahui kapan ia tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi, mimpi yang membuatnya semakin merasa
bersalah. Seakan ia melihat suatu padang luas bermandikan cahaya yang menakjubkan, dan puluhan ribu, atau mungkin jutaan makhluq bercahaya duduk diatas betisnya sendiri dengan kepala tertunduk takut. Ketika beliau mencoba mengangkat wajahnya untuk melihat kepada siapa mereka bersimpuh, tidak mampu...kepalanya dan matanya tidak mampu memandang dengan menengadah.

Beliau hanya dapat melihat para makhluq yang duduk di hadapan Sesuatu Yang Dahsyat.
Terdengar olehnya suara pertanyaan, "Bagaimana hambaKu si Fulan, hai MalaikatKu?" nama yang tidak di kenalnya. Seorang berdiri dengan tubuh gemetar karena takut, dan bersuara dengan lirih, "Subhanaka yaa Maalikul Quddus, Engkau lebih tahu keadaan hambaMu itu. Dia mengatakan demikian :

"Wahai Allah Yang Menciptakan Malam dan Siang, Yang dengan mudah menciptakan diriku yang sempurna ini. Karena Engkau tidak mengabulkan permintaanku hingga saat ini, mulai besok aku tidak akan meminta dan sholat lagi kepadaMu, aku akan lebih rajin berusaha agar tidaklah harus beralasan bahwa semua tergantung dariMu. Ma-afkan aku selama ini, ampuni aku selama ini menganggap bahwa diriku sudah dekat denganMu !" Ampuni dia yaa Al 'Aziiz, yaa Al Ghofuurur Rohiim!"
Tersentak beliau, itu...itu kata-kataku semalam ..oh celaka, pikirnya.

Kemudian terdengar suara lagi : "Sayang sekali,padahal Aku sangatmenyukainya, sangat mencintainya, dan Aku paling suka melihat wajahnya yang terpejam menangis, bersimpuh dengan menengadahkan
tangannya yang gemetar kepadaKu, dengan bisikan-bisikan permohonannya kepadaKu, dengan
permintaan-permintaannya kepadaKu, sehingga tak ingin cepat-cepat Kukabulkan apa yang hendak aku berikan kepadanya agar lebih lama dan sering aku memandang wajahnya, Aku percepat cintaKu padanya dengan Aku bersihkan ia dari daging-daging haram badannya dengan sakit yang ringan.
Aku sangat menyukai keikhlasan hatinya disaat Aku ambil putranya, disaat kuberi ia cobaan tak pernah Ku dengar keluhan kesal dan menyesal di mulutnya, Aku rindu kepadanya.

Rindukah ia kepadaKu,hai Malaikat-malaikatKu?"

Suasana hening, tak ada jawaban. Menyesallah beliau atas peryataannya semalam, ingin ia berteriak untuk menjawab dan minta ampun tapi suara tak terdengar, bising dalam hatinya karenanya. "Ini aku
Yaa Robbi, ini aku.Ampuni aku yaa Robbi, ma-afkan kata-kataKu !"
semakin takut rasanya ketika tidak tampak mereka mendengar, mengalirlah air matanya terasa hangat di pipinya. Astaghfirullah !! Terbangun ia, mimpii...

Segeralah ia berwudhu', dan kembali bersujud dengan bertambah khusyu', kembali ia sholat dengan bertambah panjang dari biasanya, kembali bermunajat dan berbisik-bisik dengan Al Kholiq dan berjanji tak akan lagi ia ulangi sikapnya malam tadi selama-lamanya.

"...yaa Allah, yaa Robbi jangan Engkau ungkit-ungkit kebodohanku yang lalu,ini aku hambaMu yang tidak pintar berkata manis, datang dengan lumuran dosa, dan segunung masalah dan harapan, apapun dariMu asal Engkau tidak membenciku aku rela.. Yaa Allah, aku rindu padaMu..."
------------------

> Semoga menambah keimanan dan ketekunan kita dalam
> mengerjakan sholatul lail....Aamiin !!

Lunbawang...

Dah dapat lesen kereta? Sepatutnya 23hb julai lepas, sy ada ujian memandu JPJ, tapi tiba2 terpaksa ke SMK. Trusan, Lawas, Sarawak huhuhu....

Saya berada di sana selama 3 hari 2 malam, program Kem Motivasi Kecemerlangan PMR 2010. Ada banyak perkara yang saya lalui sepanjang berada di sana. Sama ada sedih, gembira, suka, segala perasaan bercampur baur.

Difahamkan sekolah ini merupakan sekolah yang paling 'teruk' di daerah ini. Pelajar malas dan agak kurang berdisiplin. Tapi kagum melihat kesungguhan guru-guru di situ cuba untuk merubah keadaan yang sedia ada. 90% pelajarnya adalah non-muslim dan daripada 600 org pelajar, hanya dalam 64 orang pelajar Muslim. Pelajar non-muslim terdiri daripada bangsa Lunbawang, Cina, Tagal. manakala pelajar Muslim kebanyakkannya Melayu Sarawak. Sedih bila melihat pelajar2 muslim sama saja seperti pelajar non-muslim, terutama sekali dari sudut pergaulan.

Sepanjang berada di sana, saya bertindak sebagai penceramah. Dibantu oleh 2 orang rakan sekerja. Seronok bila kita dapatberkongsi ilmu dengan pelajar di sana walaupun adakalanya kami berdepan dengan masalah komunikasi. Rupanya mereka selama ini menggunakan bahasa Lunbawang sebagai bahasa harian sama ada di sekolah atau di luar. Sehingga guru-guru di situ terpaksa belajar menguasai bahasa tersebut untuk memudahkan mereka 'masuk' dengan pelajar2nya.

Adakalanya, saya terfikir, kalau nak jalankan kerja dakwah kat sini rasanya kena kuasai dulu bahasa Lunbawang...hehe

kembali....

Sudah lama saya tak up-date blog. bukan kerana takde masa tapi mungkin kelemahan saya dalam menguruskan masa. Saya teringat pertemuan dgn ustz saifulislam, menulis blog adalah kerehatan buatnya. Rasulullah solat untuk berehat...wah...!!! Mengalir air mata saya mendengar kata-katanya. Definisi waktu rehat orang-orang soleh sangat jauh dengan definisi rehat kita. Dan terlalu sukar untuk mendidik diri menukar persepsi rehat orang biasa kepada rehat orang soleh.

Friday, March 12, 2010

Kerja atau buat bisness..??

Semalam ada 2 meeting. Meeting nak buat biznes dengan seorang kawan dan meeting seorang kakak. Saya nak buat biznes. Macam-macam idea biznes timbul di fikiran saya.Saya tidak sabar meletupkan segala ilmu yang saya kutip sepanjang bekerja dengan sekolah swasta, GEMS dan kursus keusahawan. Bukan tidak bersyukur dengan pekerjaan sekarang, tetapi saya ingin bebas daripada masalah ‘duit gaji haram’. Saya nak bagi contoh, kita diberi kerja dari jam 8 am hingga 5 pm. Tetapi adakah betul kita gunakan waktu kerja itu untuk bekerja??(peringatan untuk penulis)

Jom muhasabah diri....!!

Masuk pejabat, 1st sekali kita akan buka laptop. Then cek email. Kot-kot ada emel bos. Tapi adakah kita benar-benar hanya akan cek emel yang bersangkutan dengan kerja? Tipulah kalau kita tidak melencong menghadap facebook. Tipulah kalau kita tidak melencong menghadap berita online. Tipulah kalau kita masuk pejabat terus buat kerja. Kalau jam 8 am masuk, jam 8 tu lah baru nak sarapan. Baru nak mekap. Nak bayar bil air lah. Nak bayar bil broadband lah...dan macam-macam lagi. Itu tidak termasuk kita menggunakan telefon opis untuk urusan peribadi...adus

Itu baru hal kita dengan bos. Belum lagi hal kita dengan Allah. Seakan kita tidak merasa diperhatikan Allah. Seakan hidup kita hanya di dunia. Seakan Malaikat tiada fungsi sekalipun berada dengan kita sepenuh masa...(peringatan untuk penulis)

Adakalanya, saya merasakan betapa tidak amanahnya saya bekerja dengan orang. Merenung gaji yang setiap bulan diterima menambahkan kegelisahan hati saya. Mahu saja setiap kali terima gaji saya kata pada bos, “Bos, terima kasih. Minta maaf semua silap saya. Termasuklah jika saya menggunakan waktu pejabat untuk urusan peribadi. Minta maaf sangaat-sangat....!!”

Andai saya ada duit sendiri, saya nak buat biznes. Sebab utamanya hanya dua. Saya yakin dengan hadis Rasulullah SAW bahawa 9 dari 10 rezeki datang dari berniaga. Kedua, supaya bila hujung bulan, saya tidak gelisah memikirkan duit yang diterima.....!!

Terima Kasih Presiden...!!

Saya baru balik dari berjumpa seorang kakak. Banyak benda yang kami bincang termasuklah hal dakwah. Ya...saya akui saya amat ketinggalan dalam dakwah. Dan banyak perkara yang saya tidak faham tentang dakwah. Alhamdulillah Allah menemukan saya dengan kakak ini. Darinya, sedikit sebanyak saya belajar tentang dakwah dan perjuangan. Pertemuan tadi, sempat saya tuliskan satu ayat yang cukup indah untuk direnungi....

“Keje dakwah nih sebenarnya pilihan Allah. Kita adalah pilihan Allah”

Rasa ingin menangis saat itu juga. Terlalu terharu dan rasa hina mendengar perkataan ‘pilihan Allah’. Teringat saya pada sahabat-sahabat dalam PSS. Saya rindukan mereka semua. Sudah lama saya tidak mengikuti sebarang aktiviti dakwah PSS. Dan saya seakan ketinggalan informasi-informasi baru PSS. Saya tahu semuanya silap saya, tidak tahu mengurus masa dan emosi. Berdepan dengan lambakan kerja. Ditambah lagi ujian peribadi. Aduss...saya begitu mudah jatuh hanya kerana masalah remeh sebegitu. Nyata, dakwah bukan untuk orang seperti saya yang hanya melakukan kerja dakwah di masa lapang sahaja. Dakwah juga bukan untuk orang manja seperti saya yang bila diuji sedikit terus lemah. Dakwah untuk orang-orang hebat seperti sahabat-sahabat PSS, yang bekerja sepanjang masa...aduss...!!

Kadang-kadang saya ingin menangis bila teringatkan diri saya ketika mula-mula menyertai sahabat PSS. Saya akui saya masuk tanpa ada ilmu dan kefahaman yang sahih. Ya..orang lain buat program kerana faham apa itu dakwah. Sedang saya, sekadar ikut-ikut. Hanya satu yang saya harapkan daripada saya isi masa lapang dengan benda tak berfaedah lebih baik saya ikut sahabat2 PSS. Namun saya akui, jauh di sudut hati saya, rasa rendah diri jika dibandingkan dengan sahabat-sahabat yang lain. Siapalah saya ketika itu.

Mungkin ramai yang menggangap saya hebat hanya kerana saya seorang ‘kakak’ dalam PSS. Tapi tidak ramai yang tahu, sebenarnya saya masih rapuh dan lemah. Saya baru sahaja mengenali perkataan dakwah. Itupun masih merangkak-rangkak untuk memahaminya apatah lagi memasukkan perkataan dakwah itu dalam diary harian saya.

Dan Allah seakan memahami jiwa hamba-Nya. Dia menemukan saya dengan kakak ini. Darinya saya pelajari banyak hal jamaah dan kepentingan berdakwah. Berada dalam jamaah Islam amat memerlukan pengorbanan dan perjuangan. Tapi semua itu hanya mampu dilakukan untuk orang yang faham tarbiyah dan dakwah. Bila kita faham apa itu dakwah, datangkan apa bentuk ujian sekalipun pasti kita akan sanggup harungi kerana kita tahu betapa indahnya merindui syurga Ilahi...!

Saya teringat kata-kata presiden PSS ketika muktamar lepas, “kalau nak faham dakwah, cuba hadam dulu sirah Rasulullah. Qiamullail jangan tinggal. Mathurat baca setiap hari...!” Aduss....rasa-rasanya saya ingin menangis saat itu juga. Betapa rendahnya ilmu dan amalan saya. Betapa saya hanya suka meragui gerak kerja jamaah tanpa berusaha memahaminya dengan ilmu. Seakan tidak layak berada di hadapan orang lain. Terima kasih presiden...! Saya akan sedaya upaya memahami erti dakwah dan jamaah sekalipun sekadar belajar melalui blog ustaz ini atau blog sahabat ini, sekalipun terpaksa merangkak-rangkak memahami buku-buku gerak kerja dakwah. Saya akan cuba. Sekalipun saya ketinggalan berbanding sahabat lain. Terima kasih presiden...!!

Wednesday, March 10, 2010

KERJA ITU IBADAH



Jam sudah menunjukkan jam 1.08 am. Mata sudah tidak mengantuk. Kertas kerja bertaburan di atas meja dan katil. Penat memang penat.

Kadang-kadang sy rasa seakan mahu berhenti kerja. Duduk di rumah seminggu dua. Bunyinya seakan tidak mensyukuri apa yangada. Baru tadi sy bercakap dengan seorang sahabat, yang baru sahaja bekerja. Itupun hanya menggunakan SPM. Tidakkah sy merasa beruntung berbanding dia? Huh...!

“Kerja Itu Ibadah”

Pernah dengar ayat di atas?? Alaa..sy yakin bagi yang selalu menjalankan kerja dakwah, ayat di atas amatmudah diselami. Tapi bagaimana untuk yang bekerja seperti sy?? Berkali-kali sy memikirkan ayat di atas, nyata sy masih tidak faham dan sukar untuk menghayati ayat di atas. Itu yang menyebabkan adakalanya sy rasa tertekan dengan kerja yang sy lakukan sekarang.

Banyak persoalan yang timbul. Andai kerja itu ibadah, apa kriterianya?

Dulu sy menyangkakan kerja itu ibadah andai kita dapat membantu orang Islam. Sy ingat lagi tempat praktikal sy, sebuah pekan yang jauh dari Kota Kinabalu. Tempat pertama yang sy pergi adalah masjid. Seronok sy melihat kanak-kanak di situ. Akhirnya sy mengajar kelas tuisyen secara percuma di masjid itu. Sy seronok dapat bantu orang Islam di situ.

Dulu sy sangkakan ‘kerja sebagai ibadah’ itu ertinya ke mana sahaja kita pergi, kita bawa fikrah Islam bersama. Dan itulah yang sedaya upaya sy bawa. Sy ingat lagi ketika di GEMS, sy membantu peserta meng’organize program Islam. Seronok sy rasakan bila sy dapat berbincang dengan mereka program-program Islam yang sesuai diadakan. Pertandingan Nasyid, pertandingan asma’ul Husna, pertandingan kuiz Islami, pertandingan poster, ceramah, usrah, tazkirah...Dan macam-macam lagi.

Tapi bagaimana pula kerja-kerja lain (contoh pengurusan, buat akaun)?? Jujur, sy lakukan kerana perlu mencapai KPI...aduss...!! Sy menangis. Sy betul-betul nak faham apa itu “kerja sebagai ibadah”?



Sekarang sy masih lagi keliru dan tak faham apa itu ‘kerja sebagai ibadah’?.
Kerja sy kali ini menguruskan program sekolah. Pergi ke sekolah buat promosi. Sy selalu pesan dengan diri sy supaya simpan niat untuk bantu orang lain memperbaiki diri. Niatkan sebagai dakwah. Tapi bila orang bertanya harga konsultasi yang kami buat, sekali lagi sy rasa ingin menangis.....Apakah sy buat kerana nak bantu orang Islam atau mencari keuntungan?

Bagaimana nak me-relate-kan kerja korporate dengan Islam?
(Kalau kerja dakwah, mungkin takde masalah)

Sebenarnya, apa itu “kerja sebagai ibadah”??

Friday, March 5, 2010

Dakwah. Kerja.Sahabat. Dan Lain-Lain...

Assalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barokatuh..

Beberapa minggu ini, sy berdepan dengan 'banyak tugasan'. Ya..semua orang menghadapinya. Dan kerana banyak tugasan inilah kita sering jadikan alasan(sindiran buat diri sendiri).

Sy suka bekerja dengan bos sy sekarang nih. Kalau pejabat lain, mungkin akan sediakan banyak kemudahan kepada pekerja. Ada kemudahan kesihatan, ada kemudahan pinjaman, ada kemudahan..macam-macam. Belum termasuk majlis makan-makan setiap bulan.

Berbeza dengan tempat kerja sy. Kami ada sesi tazkirah setiap hari khamis. Dan ada sesi ceramah setiap malam khamis. Tempat kerja anda ada??

Beberapa minggu lepas, sy ditugaskan oleh bos untuk meng'handle' usrah untuk muslimat di pejabat kami. Huh...Sy sangkakan kerja ini mudah. Ye lah..setakat setup usrah. Just tentukan tarikh, masa dan naqibahnya sapa.

Tapi rupanya sy silap. Bukan mudah untuk mengajak manusia hari ini ke majlis2 agama.

"maryaaaamm...tak cukup ke tazkirah setiap hari khamis?"

"maryaaammm...penat la. kita ada ceramah lagi setiap khamis malam....!"

"maryaaamm...mana boleh buat hari weekends...kami mau berehat...!!"

"maryaaammm.....maryaaammm...."


Sy tarik nafas panjang. Ya, kita memang mudah penat kalo bab berkaitan agama...

Segera sy adukan masalah ini kepada seorang teman. Kata-katanya simple tetapi cukup untuk membuatkaan sy lega.

"Kak, cukuplah dulu sesi tazkirah tuh. Mungkin dari situ, dorang akan faham"

Ya..sy setuju. Kata-katanya sama macam analogi tentang ream of paper. Pernah baca?? Cuba amik satu helai paper. Then tambah dengan satu paper lagi. Then tambah dengan satu paper lagi. Then tambah lagi.Tambah lagi.Tambah lagi hingga cukup jadi satu ream paper.

Begitulah juga dalam kerja-kerja nak bawa manusia ke jalan dakwah. Bilamana seseorang mendapat hidayah, ia ibarat lengkap satu ream paper. Hati kita mungkin tersentuh bila seorang demi seorang datang beri tazkirah. Macam kertas tadi, kita letak sehelai demi sehelai. Sehinggalah penuh dan cukup. Dan orang yang terakhir meletak itu hanyalah mencukupkan rasa untuk kita memahami erti islam.

Bukan sebab hanya seorang yg terakhir itu kita mendapat hidayahNya. Tapi disebabkan adanya kertas-kertas yang terdahulu, yang terbina sedikit demi sedikit. Sehinggalah cukup untuk kita tersentuh dengan hidayah islamiah ini.

Untuk sahabat-sahabat(bakal anak usrah/pekerja) yang diamanahkan pada kita, hendaklah kita menjadi pemberi kertas itu. Mungkin kitalah orang pertama. Tapi disebabkan helaian yang kita bagi, barangkali ialah yang menjadi asbab adik itu faham suatu hari nanti. Yakinlah dengan janjNnya. InsyaAllah. InsyaAllah. InsyaAllah.

Dan it is a big reminder juga buat kita as duat. Yang faham, bahawa da'wah ni bukan hanya kita seorang sahaja yang menyumbang sekiranya sahabat itu memahami erti da'wah dan tarbiyyah, malah menjadi hebat selepas itu. Tetapi sebab ramainya yang datang kepada dia sebelum itu. Dan ini membersihkan niat kita. Dan memahamkan kita erti bahawa, Allah sahajalah yang memegang hati-hati manusia. Dan kita hanya melaksanakan tugas kita. Tidak kisahlah kita jadi pemberi helaian muka depan ke, muka tengah ke, ya, bahkan percentage kita mungkin lebih kecil dari usaha-usaha orang sebelum kita. Tapi semua itu contribute untuk melengkapkan a ream of paper itu kan? Ya, dan kita ini hanya menyambung usaha-usaha orang sebelum-sebelum kita.

Ya, tepat sekali. Lagi besar pahala mereka yang meletakkan batu asas sesebuah rumah, despite of kekurangan banyak benda. Cuba bandingkan dengan mereka yang terus sahaja duduk dalam rumah itu?

Dan tak akan sama mereka yang sebelum fathul dan selepas fathul (pembukaan)... (57:10)