Showing posts with label Tauladan. Show all posts
Showing posts with label Tauladan. Show all posts

Monday, September 12, 2011

HIKMAH MENINGGALKAN CAKAP BOHONG

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Luqman Hakim, menceritakan pada suatu hari ada seorang telah datang berjumpa dengan Rasulullah S.A.W. kerana hendak memeluk agama Islam. Sesudah mengucapkan dua kalimah syahadat, lelaki itu lalu berkata :
"Ya Rasulullah. Sebenarnya hamba ini selalu sahaja berbuat dosa dan payah hendak meninggalkannya." Maka Rasulullah menjawab : "Mahukah engkau berjanji bahawa engkau sanggup meninggalkan cakap bohong?"
"Ya, saya berjanji" jawab lelaki itu singkat. Selepas itu, dia pun pulanglah ke rumahnya.

Menurut riwayat, sebelum lelaki itu memeluk agama Islam, dia sangat terkenal sebagai seorang yang jahat. Kegemarannya hanyalah mencuri, berjudi dan meminum minuman keras. Maka setelah dia memeluk agama Islam, dia sedaya upaya untuk meninggalkan segala keburukan itu. Sebab itulah dia meminta nasihat dari Rasulullah S.A.W.
Dalam perjalanan pulang dari menemui Rasulullah S.A.W. lelaki itu berkata di dalam hatinya :
"Berat juga aku hendak meninggalkan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah itu."

Maka setiap kali hatinya terdorong untk berbuat jahat, hati kecilnya terus mengejek.
"Berani engkau berbuat jahat. Apakah jawapan kamu nanti apabila ditanya oleh Rasulullah. Sanggupkah engkau berbohong kepadanya" bisik hati kecil. Setiap kali dia berniat hendak berbuat jahat, maka dia teringat segala pesan Rasulullah S.A.W. dan setiap kali pulalah hatinya berkata :
"Kalau aku berbohong kepada Rasulullah bererti aku telah mengkhianati janjiku padanya. Sebaliknya jika aku bercakap benar bererti aku akan menerima hukuman sebagai orang Islam. Oh Tuhan....sesungguhnya di dalam pesanan Rasulullah itu terkandung sebuah hikmah yang sangat berharga."

Setelah dia berjuang dengan hawa nafsunya itu, akhirnya lelaki itu berjaya di dalam perjuangannya menentang kehendak nalurinya. Menurut hadis itu lagi, sejak dari hari itu bermula babak baru dalam hidupnya. Dia telah berhijrah dari kejahatan kepada kemuliaan hidup seperti yang digariskan oleh Rasulullah S.A.W. Hingga ke akhirnya dia telah berubah menjadi mukmin yang soleh dan mulia.

Tuesday, September 6, 2011

Bacaan untuk budak sekolah agama.....



Mereka kata...Kita ni pelajar Sekolah Agama

Tapi Kita...Semakin malu mengaku hakikat itu

Mereka kata...Kita ni mejaga solat

Tapi Kita...Kalau boleh nak buat masa paling hujung waktu

Mereka kata...Kita ni boleh menjadi imam

Tapi Kita... Bagi alasan " Eh ada orang yang lagi layak"

Mereka kata...Kita ni tak kan mengumpat

Tapi Kita...Pantang ada geng. Pasti bergosip

Mereka kata...Kita ni calon suami yang soleh

Tapi Kita...Layak ke gelaran soleh tu untuk kita?

Mereka kata...Kita ni calon isteri yang solehah

Tapi Kita...Layak ke gelaran solehah tu untuk kita?

Mereka kata...Kita ni mathurat dijadikan amalan harian

Tapi Kita...Mathurat tu ape ek?

Mereka kata...Kita ni mengamalkan sunnah

Tapi Kita...Pekara yang wajib pun entah ke mana

Mereka kata...Kita ni menutup aurat

Tapi Kita...Mempersembahkan aurat menjadi kebanggan

Mereka kata...Kita ni qiamullail dijadikan makanan mingguan

Tapi Kita...Last buat pun time kat SMKA dulu

Mereka kata... Kita ni kuat bersedekah

Tapi Kita...Baik simpan buat belanja kekasih

Mereka kata... Kita ni menjaga batasan pergaulan

Tapi Kita...Bertepuk tampar dengan ajnabi menjadi kebiasaan

Mereka kata...Kita ni banyak menghafaz Al Quran

Tapi Kita...As Sajdah masa exam PQS dulu pun entah ke mana

Mereka kata...Kita ni sedap mata memandang

Tapi Kita...Muka pun dah hilang nur dek kerana jarang berwudu’

Mereka kata...Kita ni membaca Al Quran dijadikan kelaziman

Tapi Kita...Agak2 berapa kali seminggu kita baca?ke setahun skali sahaja?

Mereka kata...Kita ni penuh ilmu agama di dada

Tapi Kita...Sekarang kita bukan belajar agama dah. Tak perlu belajar agama!!!!


Di atas ni sedikit fenomena biasa dalam kalangan produk pelajar sekola agama. Sebaik sahaja melangkah keluar dari Sekolah yang dikatakan Agama yang dikurung SMK(A) maka sejajar dengan itu segala tarbiyah dan didikan dari Ustaz dan Ustazah kita abaikan. Kita tergolong dalam bekas pelajar yang ada sedikit fikrah agama.

Tapi ada kalangan kita yang mencemarkan agama. Tak malukah kita melihat bekas pelajar sains, bekas pelajar sekolah harian biasa malahan bekas pelajar King Edward dan Methodist pun lebih menghayati agama dari kta yang bertitle “Budak sekolah agama”. Oh terlupa pula, kita hanya bekas sekolah agama. Tak perlu lagi menonjolkan ciri-ciri murni Islam dalam diri. Tapi ingatlah teman sekalian. sememangnya kita adalah bekas sekolah agama. Tapi kita bukan bekas beragama Islam. Kita masih beragama islam.

Tidak berdesing kah telinga kita mendengar “Ala..budak sekolah agama pun buat begitu dan begini” atau lebih menyakitkan apabila non muslim bercakap “I tengok budak sekolah agama pun macam tu. Patut la Islam ni teruk..”

Nah.. tahniah untuk kita semua yang berjaya menimbulkan fitnah besar kepada agama yang kita cintai ini. Islam yang tersebar dengan lelah dan keringat umat terdahulu kita cemarkan dengan akhlak “budak sekolah agama” kita tu.

Ingin atau tidak kita sememangnya memegang title tersebut. Bukan kita sahaja. Ramai lagi kawan2 kita dari aliran yang sama BERUNTUNG dengan adanya title tersebut. Kita telah dijinakkan satu ketika dahulu dengan tarbiyah SMKA. Kenapa tidak sekarang kita kembali kepada kita yang dahulu? Jadikan title “budak sekolah agama” itu sebagai wasilah untuk kita memperbaiki diri kita yang dipenuhi dengan lumpur noda ini.

Artikel ini bukanlah dihadirkan atas dasar ingin mengumpat ataupun mengata. Tetapi cuma ingin memperkatakan apa yang harus dikata. Bukan juga niat untuk menyatakan SEMUA produk SMKA itu tidak bagus. Mungkin perkara di atasa hanyalah semata kes yang anamoli. Tapi mungkin juga ianya telah ataupun akan menjadi kes yang major. Sekadar peringatan untuk diri ini dan rakan2 lain yang sudi untuk diperingatkan.

Bukan mengatakan untuk kita menjadi alim seperti ulama’ hebat, Bukan ingin mengatakan kita taat seperti malaikat. Tapi cukup lah menjadi umat sebenar-benar umat. Ingat kata2 ini “Andai tak mampu buat semua jangan tinggal semua” dan jangan sampai “MEREKA KATA kita adalah harapan agama TAPI KITA sebenarnya adalah sampah agama”

Salam Ramadhan Kareem.. Semoga madrasah Ramadhan ini akan mengembalikan zaman kegemilangan tarbiyah diri kita yang pernah muncul di susana SMK (A) satu ketika dahulu..<---errkk...macam dah telambat ucap...hehe



P/S : Mohon dipanjangkan artikel ini untuk kebaikan bersama....

Friday, September 2, 2011

Adab Berposting......


1. Pikirkanlah dahulu isi postingan sebelum mengeluarkan posting. Postingan sebaiknya selalu di dalam hal kebaikan.

Allah berfirman yang artinya,
"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisik-bisikan mereka, kecuali bisik-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat ma`ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia" (An-Nisa: 114)

2. Postingan harus BERLANDASKAN ILMU

Dan sabda Rasulullah ( ﷺ): “Barang siapa berbicara tentang al Qur’an dengan akal-nya atau tidak dengan ilmu, maka hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka”

(Hadist seperti ini ada dari 2 jalan, yaitu Ibnu Abas dan Jundub. Lihat Tafsir Qur’an yang diberi mukaddimah oleh Syeikh Abdul Qadir Al-Arnauth hal. 6, Tafsir Ibnu Katsir dalam Mukaddimah hal. 13, Jami’ As-Shahih Sunan Tirmidzi jilid 5 hal.183 no. 2950 dan Tuhfatul Ahwadzi jilid 8 hal. 277).

3. Jangan membicarakan sesuatu yang tidak berguna.

Rasulullah shollallahu wa sallam menyatakan :

"Termasuk baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya"

(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)


4. Berpostinglah hanya secukupnya dan sesuai topik pembicaraan.

Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda;

"Janganlah kamu membicarakan semua apa yang kamu dengar. Cukuplah menjadi suatu dosa bagi seseorang apabila ia membicarakan semua apa yang telah ia dengar"

(HR. Muslim).


5. Hindarilah perdebatan dan saling membantah.

Sekalipun berada di pihak yang benar dan menjauhi perkataan dusta sekalipun bercanda.

Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Aku menjadi penjamin sebuah istana di taman Surga bagi siapa saja yang menghindari perdebatan sekalipun ia benar; dan penjamin istana di tengah-tengah Surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda."

(HR. Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani).


6. Hindarilah perkataan jorok (keji).

Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda,

Bukankah seorang mukmin (jika ia) pencela, pengutuk atau yang keji pembicaraan-nya.

(HR. Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan dishahihkan oleh Al-Albani).


7. Hindari sikap memaksakan diri dan banyak omong di dalam berbicara.

Hadits Jabir radhiallahu anhu menyebutkan,

"Sesungguhnya manusia yang paling aku benci dan yang paling jauh dariku di hari Kiamat kelak adalah orang yang banyak bicara, orang yang berpura-pura fasih dan orang-orang yang mutafaihiqun". Para shahabat bertanya,"Wahai Rasulllah, apa arti mutafaihiqun?" Nabi menjawab, "Orang-orang yang sombong".

(HR. At-Turmudzi, dinilai hasan oleh Al-Albani).


8. Hindari prasangka-prasangka buruk

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka , karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS Al-Hujurat:12)


9. Hindari ghibah (menggunjing), fitnah (berita bohong) dan mengadu domba.

Sesuai dengan hadith dibawah ini:

Dari Abu Daud : Nabi( ﷺ) bersabda : "Tahukah kamu apa ghibah itu ? Jawab sahabat : Allahu warasuluhu a'lam (Allah dan Rasulullah yang lebih tahu)

Kemudian Nabi ( ﷺ) bersabda: Menceritakan hal saudaramu yang ia tidak suka diceritakan pada orang lain. Lalu Sahabat bertanya: Bagaimana jika memang benar sedemikian keadaan saudaraku itu ?

Jawab Nabi ( ﷺ): "Jika benar yang kau ceritakan itu, maka itulah ghibah, tetapi jika tidak benar ceritamu itu, maka itu disebut buhtan (tuduhan palsu,fitnah) dan itu lebih besar dosanya". (HR. Muslim)


10.Hindari perkataan kasar, dan ucapan yang menyakitkan perasaan serta tidak mencari-cari kesalahan dari kekeliruan pembicaraan orang lain.

Karena hal tersebut dapat mengundang kebencian, permusuhan dan pertentangan.Seperti: Mengafirkan, menuduh fasik, menuduh ahlul-bid'ah (padahal bisa saja dia tidak mengetahui kebid'ahan yang dilakukannya), memvonis celaka dan sumpah palsu.

11. Hindari sikap mengejek, memperolok-olok dan memandang rendah orang yang berposting

Allah berfirman yang artinya,

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan jangan pula wanita-wanita(mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita(yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan)" (Al-Hujurat: 11)


12. Jangan bersumpah selain dengan nama Allah

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar ra, bahwasanya Rasulullah bertemu dengan‘Umar bin al-Khaththab ra yang sedang berjalan bersama rombongan, beliau mendengarnya bersumpah atas nama ayahnya. Rasulullah bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya Allah melarang kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian. Barangsiapa bersumpah,hendaklah ia bersumpah dengan nama Allah atau sebaiknya ia diam." (HR. Bukhari : 6646 dan Muslim : 1646)


13. Jangan mencaci dan menyalahkan masa, terutama kepada kaum muslimin

Diriwayatkan dari Abu Hurairah , dari Rasulullah ., bahwa beliau bersabda (artinya), "Allah azza wa jalla berfirman, 'Ibnu Adam telah menyakiti-Ku! Mereka berkata,'Duhai sialnya masa!' Janganlah mengatakan: 'Duhai sialnya masa,' sebab Aku-lah Pencipta masa, Aku-lah yang membolak-balikkan siang dan malam.Sekiranya Aku berkehendak, niscaya Aku akan menggenggam keduanya (yakni menahan siang dan malam)!'"(HR Bukhari [4826] dan Muslim [2246])Dalam riwayat lain disebutkan, "Mereka memaki masa.")


14.Menghindari dusta

Berdasarkan hadits Rasulullah ( ﷺ) : “Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)


15. Menghindari banyak bercanda

Berdasarkan hadits Rasulullah ( ﷺ):

“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH (سبحانه وتعالى) di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)


16. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk

Berdasarkan QS. Al-Hujurat ayat 11-12, juga dalam hadits nabi (ﷺ): “Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.”
(HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Bila members melihat ada member lain yang melanggar peraturan-peraturan diatas, maka sebaiknya menasehati member lainnya secara hikmah dan lemah lembut kepada ybs, untuk me-revisi apa yang telah dipostingkannya, jika masih saja membelot dan tidak mengindahkan nasehat, harap segera memberitahu admin/moderator melalui PM.

Atas kerja samanya, syukron katsiran
Jazakallah Khair

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Mukhlisah Nur: dapat kat sini http://manhajsalaf.topicboard.net/t4-adab-berposting

Monday, August 29, 2011

Tolong Sampaikan Sedekahku Ini Kepada Para PELACUR!!!

Seorang ulama besar Hadis sedang asyik membacakan serta mensyarahkan maksud hadis kepada para muridnya.Tiba-tiba sang guru berhenti membacakan hadis dan bertanyakan sesuatu yang
membuatkan semua murid terpinga-pinga.

“Muridku sekalian, aku punya hajat yang sangat besar.Adakah sesiapa yang mampu menunaikan hajatku ini?” Tanya sang murabbi pada seluruh muridnya.

Salah seorang murid kanan Syeikh menjawab dengan penuh adab, “ Hajat apakah wahai Tuan Guru? Khabarkanlah kepada kami,moga kami mampu untuk menunaikannya untuk Tuan Guru”.

Sang Guru menarik nafas dengan perlahan seraya berkata “ Aku punya sedikit harta yang ingin aku sedekahkan,adakah sesiapa yang ingin membantuku mengagihkan harta ini?”

“Kami bersedia membantumu wahai Tuan Guru untuk mengagihkan harta ini”jawab Murid tersebut dengan bersemangat.

“Bolehkah Tuan Guru perincikan kepada siapakah harta ini akan dibahagikan?”seorang murid yang lain bertanya dengan lebih lanjut.
“Hartaku ini akan aku sedekahkan kepada para pelacur yang berada di tempat sekian-sekian”Jawab Tuan Guru dengan tenang.

Keadaan menjadi bingit,masing-masing keliru dengan tujuan utama Tuan Guru yang terkenal alim dan soleh ini.

“Aku sudah mengagakkan bahawa kamu semua tentu tidak akan mampu untuk melaksanakan hajatku ini.Kalau begitu tidaklah mengapa.Biarlah aku sendiri yang pergi menyampaikannya.”Tuan Guru menjawab dengan tenang.

Para murid rasa bersalah di atas sikap yang mereka tunjukkan.Salah seorang murid kanan Tuan Guru menawarkan dirinya untuk menyampaikan harta tersebut.

Mana mungkin dia boleh membiarkan Tuan Guru yang terkenal hebat dan wara’ ini dibiarkan masuk dan bertandang ke tempat hina seperti itu.


“Ketuklah setiap pintu rumah pelacuran tersebut dan ketika kamu menyampaikan sedekah ini katakan bahawa ini adalah sedekah daripadaku(Nama tuan guru) dan doakan aku semoga diberkati oleh Allah taala” Tuan Guru memberikan pesanan kepada muridnya tersebut.

Maka sang murid yang mulia ini terus memulakan tugasnya dengan penuh tanda tanya di dalam pemikirannya mengapakah Tuan Guru ingin benar memberikan sedekah kepada golongan hina ini.Namun arahan Tuan Guru perlu dilaksanakan.Sang murid menutup mukanya dan terus masuk ke kawasan pelacuran tersebut.

Beliau mengetuk setiap pintu rumah pelacuran di kawasan itu dan menyampaikan apa yang dipesan oleh Tuan Guru kepadanya.

“Assalamualaikum, maafkan saya mengganggu,saya adalah utusan daripada Tuan Guru fulan bin fulan ingin menyampaikan sedekah daripada beliau kepada kalian.Beliau berpesan agar mendoakan beliau semoga dirahmati oleh Allah taala”.

Terkejut para pelacur bila mendengar nama Tuan Guru yang alim dan wara tersebut sudi memberikan sedekah kepada mereka.Setelah selesai tugasnya, sang murid terus beredar daripada kawasan hitam tersebut sambil menghelakan nafasnya.

Masing-masing ternanti-nanti apakah yang akan berlaku selanjutnya setelah peristiwa tersebut.Keesokkan paginya , sesuatu yang mengejutkan telah berlaku.Seluruh bumi Syria gempar apabila keseluruhan pelacur yang ada di kawasan tersebut telah beramai-ramai datang menunaikan solat Subuh di Masjid Tuan Guru.Mereka datang mendengar majlis pengajian daripada Tuan Guru dan bertaubat daripada segala dosa-dosa yang telah mereka lakukan.Barulah semua murid faham mengapakah Tuan Guru benar-benar ingin menyampaikan sedekah tersebut kepada golongan pelacur berkenaan.

Ini merupakah karamah yang Allah taala kurniakan kepada Tuan Guru yang wara’ ini.Dakwahnya yang sangat lembut dan berkesan memberikan impak yang sangat besar kepada kehidupan pelacur-pelacur tersebut.

Tuan Guru yang saya maksudkan di sini ialah al-Alim al-Allamah Muhaddis al-Syam Sayyid Badruddin al-Hasani rahimahullahu taala.Beliau wafat pada 1354 Hijriyah.Beliau digelar “Khatimah al-Huffaz dan al-Muhaddissin”

yang bermaksud penutup kepada para ulama Hadis yang terkemuka.Mula mengarang kitab ketika umurnya belumpun sampai 20 tahun.

Beliau mengajar di Masjid Umawi pelbagai bidang ilmu seperti Nahwu, Sarf, Balaghah, Mantiq, Fiqh dan lain-lain.Menurut Syeikh al-Allamah Mahmud Rashid al-Attar rahimahullah (wafat 1362 Hijriyah), Syeikh Badruddin al-Hasani juga mengajar

kitab Tafsir Baidhawi tanpa melihat kepada kitab dan tanpa memegang apa-apa kertas pun ditangannya.Tafsir tersebut telah dihafalnya dan dikuasainya dengan begitu hebat.

Ketika umur Syeikh al-Allamah Badruddin al-Hasani mencapai 30 tahun beliau mula mengajar Sahih Bukhari di Masjid al-Sadat.Ini juga dilakukan tanpa melihat kitab sedikitpun.Beliau menghafal keseluruhan Sahih Bukhari di dalam dadanya.

Menurut para ulama tidak pernah dilihat seseorang yang begitu alim menyampaikan pengajian dengan keseluruhan bidang ilmu seperti Syeikh Badruddin al-Hasani rahimahullah.Ketika mensyarahkan Sahih Bukhari ,
keseluruhan ilmu dibahaskannya termasuklah ilmu perubatan, hikmah-hikmah, falsafah dan lain-lain.

Antara kelebihan Syeikh Badruddin al-Hasani rahimahullah juga ialah, semuanya mampu untuk memahami apa yang disampaikannya,bukan hanya para ulama dan penuntut ilmu,

malah para petani dan orang awam yang biasa juga mampu untuk memahami apa yang disampaikan oleh Syeikh al-Murabbi rahimahullah.Ini kerana keikhlasannya yang begitu tinggi ketika menyampaikan pengajian.

Beliau juga digelar Qutb al-Zaman (Wali Allah yang menjadi paksi kepada seluruh para wali ketika itu)dan Mujaddid pada zaman tersebut. Al-Fatihah buat Syeikh al-Allamah al-Muhaddis Sayyid Badruddin al-Hasani rahimahullah.

Saturday, August 27, 2011

Ketika Allah Menjadi Alasan Paling Utama

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarrakatuh

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berani memutuskan untuk menikah dan menyegerakannya.

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berani memutuskan dengan siapa aku akan menikah.

Aku tidak banyak bertanya tentang calon suamiku, aku jemput dia di tempat yang Allah suka, dan satu hal yang pasti, aku tidak ikut men-campuri ataupun mengatur apa-apa yang menjadi urusan Allah.

Sehingga aku nikahi seorang lelaki tegar dan begitu berbakti kepada suami.

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak melihat segala kekurangan suamiku, dan aku mencoba membahagiakan dia.

Ketika Allah menjadi alasan paling utama, maka menetes air mataku saat melihat segala kebaikan dan kelebihan suamiku, yang rasanya sulit aku tandingi.

Maka akupun berdoa,

"Yaa Allah, jadikan dia, seorang lelaki,suami dan ayah anak-anakku, yang dapat menjadi jalan menuju surgamu."


Sahabat-sahabat, kalau Allah menjadi alasan paling utama untuk menikah, maka seharusnya tidak ada lagi istilah, mencari yang cocok, yang ideal, yang menggetarkan hati, yang menentram-kan jiwa, yang.. yang.… yang… dan 1000 “yang”… lainnya..

Karena semua itu baru akan muncul justru setelah melewati jenjang pernikahan.

Niatkan semua karena Allah dan harus yakin kepada Sang Maha Penentu segalanya.

Sahabat-sahabat, ketika usiaku 16tahun, aku sudah memiliki niat untuk menikah, meskipun hanya sekedar niat, tanpa keilmuan yang cukup.

Karena itu, aku meminta jodoh kepada Allah dengan banyak kriteria.

Dan Allah pun belum mengabulkan niatku.

Ketika usiaku 17 tahun, semua orang-orang yang ada di sekelilingku, terutama orang tuaku, mulai bertanya pada diriku dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri.

Maukah aku segera menikah atau mampukah aku menikah?

Dalam doaku, aku kurangi permintaanku tentang jodoh kepada Allah.

Rupanya masih terlalu banyak.....

Dan Allah pun belum mengabulkan niatku.

Ketika usiaku masih 17 tahun, aku bertekad, bagaimanapun caranya, aku harus menikah.

Saat itulah, aku menyadari, terlalu banyak yang aku minta kepada Allah soal jodoh yang aku inginkan.

Mulailah aku mengurangi kriteria yang selama ini menghambat niatku untuk segera menikah, dengan bercermin pada diriku sendiri.

Ketika aku minta yang tampan, aku berpikir sudah cantikkah aku?

Ketika aku minta yang cukup harta, aku berpikir sudah cukupkah hartaku?

Ketika aku minta yang baik, aku berpikir sudah cukup baikkah diriku?

Bahkan....

Ketika aku minta yang soleh, bergetar seluruh tubuhku sambil berpikir panjang di hadapan cermin, sudah solehahkah aku?

Ketika aku meminta sedikit, Ya Allah, berikan aku jodoh yang sehat jasmani dan rohani dan mau menerima aku apa adanya, masih belum ada tanda-tanda Allah akan mengabulkan niatku.

Dan ketika aku meminta sedikit, sedikit, sedikit, lebih sedikit,

"Ya Allah, siapapun lelaki yang langsung menerima ajakanku untuk menikah tanpa banyak bertanya, berarti dia jodohku."

Dan Allahpun mulai menujukkan tanda-tanda akan mengabulkan niatku untuk segera menikah.

Semua urusan begitu cepat dan mudah aku laksanakan.

Alhamdulillah, ketika aku meminta sedikit, Allah memberi jauh lebih banyak.

Sahabatku,bertahun harus aku lewati dengan sia-sia hanya karena permintaanku yang terlalu banyak.

Aku yakin, sahabat-sahabat jauh lebih mampu dan lebih baik daripada aku.

Aku yakin, sahabat-sahabat tidak perlu waktu bertahun untuk mengurangi kriteria soal jodoh.

Harus lebih cepat!!!

Terus berjuang saudaraku, semoga Allah merahmati dan meridhoi kita semua.

Subhaanakalloohumma wa bihamdika, asyhadu allaa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Wassalamu'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh


Mukhlisah Nur: terdiam seketika membaca penulisan ini di sini

Tuesday, August 16, 2011

2 perkara yang membuat kita tidak bersyukur

Syukur merupakan kualiti hati yang terpenting.
Dengan bersyukur kita akan sentiasa merasa tenang, tenteram dan bahagia.
Sebaliknya, jika kita selalu tidak bersyukur…
Kita akan selalu merasa kurang dan tak bahagia.
Ada dua perkara yang selalu membuatkan kita tidak bersyukur.

Pertama :

Kita sering memfokuskan pada apa yang kita inginkan, bukan pada apa yang telah kita miliki.

Katakanlah kita telah memiliki sebuah rumah, kereta, pekerjaan tetap, dan pasangan yang terbaik.Tapi kita masih merasa kurang. Fikiran kita dipenuhi berbagai target dan keinginan.

Kita sangat obses dengan rumah yang besar dan cantik, kereta yang mewah, serta pekerjaan yang bergaji besar.

Kita ingin itu dan ini. Bila tak mendapatkannya kita akan terus memikirkannya.

Tapi peliknya, walaupun kita sudah mendapatkan apa yang kita citakan, kita hanya menikmati kesenangan sekejap sahaja.

Kita tetap tak puas, kita ingin yang lebih lagi. Jadi, betapapun banyaknya harta yang kita miliki, kita tak pernah menjadi “KAYA” dalam erti yang sebenar.

Mari kita jelaskan pengertian kita mengenai ‘orang kaya’.

Orang yang “kaya” bukanlah orang yang memiliki apapun, tetapi orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.

Tentu sahaja kita boleh memiliki impian hidup, tapi kita perlu menyedari bahawa inilah akar perasaan tak tenteram.
Kita dapat mengubah perasaan ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki.

Cubalah lihat keadaan di sekeliling kita, fikirkan yang kita miliki, dan bersyukurlah.

Anda akan merasakan nikmatnya hidup.
Pusatkanlah perhatian anda pada sifat-sifat baik boss anda, pasangan, dan orang-orang di sekeliling Anda.

Mereka akan menjadi lebih menyenangkan.

Seorang pengarang pernah mengatakan, ”Menikahlah dengan orang yang anda cintai, setelah itu cintailah orang yang anda nikahi.” Ini mewujudkan rasa bersyukur.

Ada cerita menarik mengenai seorang miskin yang mengeluh kerana tidak dapat membeli kasut, sedangkan kasutnya sudah lama koyak.

Suatu petang dia melihat seseorang yang tidak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Masa itu juga orang tadi berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.

Kedua:

Perkara yang membuat kita tidak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain.

Kita merasa orang lain lebih beruntung. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih kacak, lebih cantik, lebih percaya diri dan lebih kaya dari kita.

Rumput jiran memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di halaman rumah kita sendiri.

Ada cerita menarik mengenai dua pesakit rumah sakit jiwa.

Pesakit pertama sedang duduk termenung sambil menjerit “Siti, Siti”.

Seorang pengunjung yang bertanyakan masalah yang dihadapi orang ini.
Doktor menjawab, “Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Siti.”

Pengunjug tadi mengangguk tapi semasa melalui bilik lain, dia terkejut melihat ada orang gila lain yang menghantukkan kepalanya di tembok dan berteriak “Siti, Siti”.

“Orang ini juga ada masalah dengan Siti?, adakah Siti yang sama?” tanyanya kehairanan.

Doktor kemudian menjawab, “Ya, dialah yang akhirnya berkahwin dengan Siti”.

Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki.Oleh kerana itu bersyukur merupakan kualiti hati yang tertinggi.

Bersyukurlah !

Bersyukurlah bahawa kamu belum memiliki segala sesuatu yang kamu inginkan.
Seandainya sudah, apalagi yang harus diinginkan?
Bersyukurlah apabila kamu tidak tahu sesuatu. kerana itu memberimu kesempatan untuk belajar.
Bersyukurlah untuk jika ada masalah yang sukar. Di masa inilah kamu akan menjadi kuat untuk hidup.
Bersyukurlah untuk kebatasanmu. kerana itu memberimu kesempatan untuk berkembang.
Bersyukurlah untuk setiap tentangan. Kerana itu akan membangun kekuatan jatidirimu.
Bersyukurlah untuk kesalahan yang kamu buat. Itu akan mengajarkan pelajaran yang berharga.

Rasa bersyukur dapat mengubah perkara yang negatif menjadi positif.

Wednesday, August 10, 2011

"Qada dan qadar"

Kalau sakit, cari ubat
Kalau kurang amalan, tingkatkan amalan.
Yang penting kena berusaha, jgn salahkan takdir.


"Qada dan qadar ialah ketetapan Allah yang telah ditentukan sejak dari
azali lagi berdasarkan ilmuNya yang Maha Tinggi, disusuli dengan kejadian
seperti mana yang telah ditetapkan. Sebagai contoh, sebelum kejadian alam
semesta, Allah menetapkan gas atau asap akan memenuhi angkasa raya diikuti
dengan kejadian bintang-bintang dan planet-planet dan itulah sebenarnya yang
telah berlaku tanpa dapat dihalangi. Allah menetapkan satu bahagian oksigen
perlu bercantum dengan dua bahagian hidrogen untuk menjadi air dan hakikat ini
tidak dapat diubah sampai ke bila-bila. Allah menetapkan kaum wanita dan
bukannya kaum lelaki yang mengandung dan melahirkan anak dan hakikat ini juga
tidak boleh diubah. Allah menetapkan mata sebagai alat untuk melihat dan
telinga untuk mendengar dan fungsi ini akan berterusan sampai ke bila-bila.
Allah menetapkan setiap yang hidup pasti merasai mati dan tidak ada seorang
pakar perubatan pun yang mampu mengubah kenyataan ini. Semua ini dan yang
lain-lainnya tidak dapat diubah sebab ia adalah ketetapan Allah sejak dari
azali lagi berdasarkan kebijaksanaanNya yang tanpa batas dan ia telah menjadi
hukum alam yang dikenali sebagai hukum sebab musabab dan sebab akibat. Justeru,
hukum alam yang berkait rapat dengan kehidupan manusia ini adalah sebahagian
daripada ketetapan qada dan qadar.

Isu yang hangat diperkatakan tentang qada dan qadar ialah, adakah tindak tanduk
manusia juga telah ditentukan oleh Allah sejak dari azali lagi? Syed Sabiq di
dalam kitabnya Al-Aqaid Al-Islamiyah berkata: "Imam Al-Khathabi telah berkata:
'Ramai orang mengira qada dan qadar adalah pemaksaan Allah ke atas hambaNya dan
manusia hanya mengikut apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Sebenarnya
pandangan yang seperti ini adalah salah kerana takdir adalah ketetapan Allah
berdasarkan ilmu Allah yang Maha Mengetahui tentang kejadian yang akan berlaku
berhubung semua perkara..' Pengetahuan Allah tentang sesuatu perkara tidak akan
mempengaruhi kehendak hamba itu."

Di zaman Omar Al-Khattab ra, seorang lelaki telah ditangkap kerana mencuri dan
beliau telah dibawa menghadap khalifah Omar. Lelaki itu telah disoal: "Mengapa
kamu mencuri?" Lelaki itu menjawab: "Kerana Allah telah mentakdirkan ini ke
atas diri saya." Khalifah Omar ra amat marah dengan lelaki ini lantas beliau
terus berkata: "Pukul lelaki ini dengan tiga puluh sebatan selepas itu potong
tangannya." Lelaki ini terkejut dengan hukuman itu dan terus bertanya: "Mengapa
hukumannya begitu berat?" Berkata Omar Al-Khattab ra: "Kamu akan dipotong
tangan kerana mencuri dan disebat kerana berdusta atas nama Allah." Maksudnya,
manusia diizinkan Allah utk membuat pilihan dan hal ini adalah sebahagian
daripada ketetapan qada dan qadar.

Hukum sebab musabab atau sebab akibat adalah takdir. Manusia dapat menolak
takdir dengan takdir yang lain kerana kesemua itu telah dicipta dan ditetapkan
oleh Allah bagi manusia. Justeru, takdir lapar dapat dihilangkan dengan takdir
makan, takdir dahaga dapat dihilangkan dengan minum dan takdir mengantuk dapat
dihilangkan dengan tidur. Mengikut sebuah riwayat yang sahih, khalifah Omar
Al-Khattab ra enggan memasuki kampung tertentu di Syam kerana ketika itu ia
sedang dilanda wabak taun. Sahabat Abu Ubaidah ibn Jarrah ra bertanya kepada
Omar ra: "Mengapa kamu lari dari takdir Tuhan?' Omar ra menjawab: "Aku lari
dari takdir Allah kepada takdir yang lain." (Tarikh At-Tabari)

Kesemua ini menunjukkan, Allah tidak pernah mengikat dan menzalimi manusia
malah sebaliknya manusia telah diberi kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya
sendiri. Walau bagaimanapun, segala keputusan manusia tidak boleh keluar dari
ruang kemanusiaan yang telah Allah tetapkan dan Allah sejak dari awal lagi
telah mengetahui segala keputusan yang akan diambil oleh manusia.

Takdir mempunyai beberapa bahagian, pertama ialah takdir di dalam ilmu Allah
yang azali. Ia bermaksud Allah telah mengetahui segala-galanya sebelum ia
benar-benar berlaku. Takdir di dalam bentuk ini tidak boleh dan tidak mungkin
berubah secara mutlak. Jika ia berubah ia mencacat kesempurnaan Allah dan hal
ini adalah mustahil di sisi Allah. Berhubung dengan ini Allah berfirman:
"Keputusan di sisiKu tidak akan berubah dan Aku sekali-kali tidak menzalimi
hamba-hambaKu." (Surah Qaaf ayat 29)

Takdir ini dikenali sebagai qada mubram atau 'takdir yang pasti' dan
mengingkarinya akan menyebabkan seseorang menjadi kafir mengikut ijmak ulama.

Takdir yang kedua ialah takdir yang tertulis di Lauh Mahfuz dan ia dikenali
juga sebagai takdir mu'allaq. Mengikut K.H. Sirajuddin Abbas di dalam buku 40
Masalah Agama, takdir ini boleh berubah dari masa ke semasa, sebagai contoh,
jika seseorang telah ditakdirkan hidup hingga ke usia 60 tahun, dan beliau
sering menghubungkan tali persaudaraan dengan manusia, Allah mungkin menambah
umurnya melebihi 60 tahun. Atau jika seseorang telah ditulis akan memasuki
neraka kemudian di hujung hidupnya beliau bertaubat dan melakukan amal salih
dengan penuh keikhlasan, berkemungkinan beliau akhirnya akan dimasukkan ke
dalam syurga. Berhubung dengan ini Allah berfirman: "Allah menghapuskan apa
yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia kehendaki dan di sisi-Nya
terdapat Ummul Kitab." (Surah Ar-Ra'd ayat 39)

Imam Baijuri di dalam kitab Tuhfatul Murid Syarh Jauharatut Tauhid berkata:
"Lauh Mahfuz, mengikut pendapat yang hak, menerima penghapusan dan penetapan."
Di antara perkara yang boleh mengubah ketetapan di Lauh Mahfuz ialah doa dan
amalan yang baik, berdasarkan sabda Nabi s.a.w yang bermaksud: "Tiada yang
boleh menolak takdir selain doa dan tiada yang boleh memanjangkan umur kecuali
perbuatan yang baik." (TIrmIzi)

Justeru, Omar Al-Khattab ra pada suatu ketika, telah melafazkan doa-doa ini
ketika bertawaf: "Ya Allah, jika Engkau telah mentakdirkan aku tergolong di
dalam golongan orang-orang yang bahagia, tetaplah aku di dalam keadaan aku.
Sebaliknya jika Engkau telah tetapkan aku di dalam golongan orang-orang yang
celaka dan berdosa, hapuskanlah takdir itu dan masukkanlah aku ke dalam
golongan orang-orang yang mendapat kebahagiaan dan keampunan."

Dalam bab mencari jodoh, nabi sendiri menyuruh kita memilih pasangan yang
betul. Oleh kerana kita disuruh memilih secara yg betul, kita mempunyai
pilihan. Justeru, berusahalah dan dalam konteks perkahwinan berusahalah utk
mencari jodoh berdasarkan landasan agama dan mintalah petunjuk Allah
tentangnya. Allah tidak pernah menzalimi manusia."

~amik dari: http://rozaimy.komputer.com.my/200

Tuesday, August 9, 2011

Kisah Budak Penjual Kuih


Hari itu selepas seminggu beraya di kampung, saya pulang ke Kuala Lumpur. Memikirkan highway PLUS sibuk, saya menyusuri laluan lama. Pekan pertama yang saya lintas ialah Teluk Intan. Terasa mengantuk, saya singgah sebentar di sebuah restoran di pinggir pekan itu. Sebaik memesan makanan, seorang kanak-kanak lelaki berusia lebih kurang 12 tahun muncul dihadapan.

"Abang nak beli kuih?" katanya sambil tersenyum. Tangannya segera menyelak daun pisang yang menjadi penutup bakul kuih jajaanya.

“Tak apalah dik... Abang dah pesan makanan," jawap saya ringkas.

Dia berlalu. Sebaik pesanan tiba, saya terus menikmatinya. Lebih kurang 20 minit kemudian saya nampak kanak-kanak tadi menghampiri pelanggan lain, sepasang suami isteri agaknya. Mereka juga menolak, dia berlalu begitu saja.

"Abang dah makan, tak nak beli kuih saya?" katanya selamba semasa menghampiri meja saya.

"Abang baru lepas makan dik. Masih kenyang lagi ni," kata saya sambil menepuk-nepuk perut.

Dia beredar, tapi cuma setakat di kaki lima. Sampai di situ, di meletakkan bakulnya yang masih sarat. Setiap yang lalu ditanya, "Tak nak beli kuih saya bang, pak cik, kakak atau makcik?"

Molek budi bahasanya! Mamak restoran itu pun tidak menghalang dia keluar masuk ke premisnya bertemu pelanggan. Sambil memerhati, terselit rasa kagum dan kasihan di hati saya melihatkan betapa gigihnya dia berusaha. Tidak nampak langsung tanda-tanda putus asa dalam dirinya, sekalipun orang yang ditemuinya enggan membeli kuihnya.

Selepas membayar harga makanan dan minuman, saya terus beredar ke kereta. Kanak-kanak itu saya lihat berada agak jauh di deretan kedai yang sama. Saya buka pintu, membetulkan duduk dan menutup pintu. Belum sempat saya menghidupkan enjin, kanak-kanak tadi berdiri di tepi kereta. Dia menghadiahkan sebuah senyuman. Saya turunkan cermin, membalas senyumannya.

"Abang dah kenyang, tapi mungkin abang perlukan kuih saya untuk adik-adik abang, ibu atau ayah abang." katanya petah sekali sambil tersenyum. Sekali lagi dia mempamerkan kuih dalam bakul dengan menyelak daun pisang penutupnya.

Saya tenung wajahnya, bersih dan bersahaja. Terpantul perasaan kesian di hati. Lantas saya buka dompet, dan menghulurkan sekeping not merah RM10. Saya hulurkan padanya.

"Ambil ni dik! Abang sedekah. Tak payah abang beli kuih tu," Saya berkata ikhlas kerana perasaan kasihan meningkat mendadak. Kanak-kanak itu menerima wang tersebut, lantas mengucapkan terima kasih terus berjalan kembali ke kaki lima deretan kedai. Saya gembira dapat membantunya. Setelah enjin kereta saya hidupkan, saya mengundur. Alangkah terperanjatnya saya melihat kanak-kanak itu menghulurkan pula RM10 pemberian saya itu kepada seorang pengemis yang buta kedua-dua matanya.

Saya terkejut, lantas memberhentikan semula kereta, memanggil kanak-kanak itu.

"Kenapa bang nak beli kuih ke?" tanyanya.

"Kenapa adik berikan duit abang tadi pada pengemis tu? Duit tu abang bagi adik!" Kata saya tanpa menjawap pertanyaannya.

"
Bang saya tak boleh ambil duit tu. Mak marah kalau dia dapat tahu saya mengemis. Kata mak kita mesti bekerja mencari nafkah kerana Allah berikan tulang empat kerat pada saya. Kalau dia tahu saya bawa duit sebanyak itu pulang, sedangkan jualan masih banyak, mak pasti marah. Kata mak, mengemis kerja orang yang tak berupaya, saya masih kuat bang!" katanya begitu lancar.

Saya sebak, sekaligus kagum dengan pegangan hidup kanak-kanak itu. Tanpa banyak soal saya terus bertanya berapa semua harga kuih dalam bakul itu.

"Abang nak beli semua ke?" Dia betanya dan saya cuma mengangguk. Lidah saya kelu nak berkata.

"RM25 saja bang."


Selepas dia memasukkan satu persatu kuihnya kedalam plastik, saya hulurkan RM25. Dia mengucapkan terima kasih dan terus berlalu.

Saya perhatikan dia sehingga hilang daripada pandangan. Dalam perjalanan ke Kuala Lumpur, baru saya terfikir untuk bertanya statusnya. Anak yatimkah? Siapakah wanita berhati mulia yang melahirknya? Terus terang saya katakan, saya beli kuihnya bukan lagi atas dasar kasihan, tetapi kerana rasa kagum dengan sikapnya yang dapat menjadikan kerjayanya satu penghormatan.

Sesungguhnya saya kagum dengan sikap kanak-kanak itu. Dia menyedarkan saya, siapa kita sebenarnya!

Tuesday, August 2, 2011

Practical Tips to Stop Wasting Time in Gossip

What’s gossiping?
Have you ever met someone guilty of cannibalism? Probably not, yet if many of us who gossiped were to go by any name – it would be this. This is the way backbiting is described in Islam and many of us know it.

Allah warns us: “O you who believe! Avoid much suspicion, indeed some suspicions are sins. And spy not neither backbite one another. Would one of you like to eat the flesh of his dead brother? You would hate it (so hate backbiting). And fear God, verily, God is the one who accepts repentance, Most Merciful.” (49: 12)



As the Prophet (peace and blessings be upon him) informed us, backbiting is “to say something about your brother that he would dislike.” Someone asked him: “But what if what I say is true?” The Messenger of Allah said: “If what you say about him is true, you are backbiting him, but if it is not true then you have slandered him.”

Why do people gossip?
When someone loves to gossip, it is usually for one or more of the following reasons:

  • Ignorance
  • Low Self-Confidence
  • Envy
  • Boredom/Wasting time
  • Trying to impress you
  • Low faith

What to do when people gossip?
Sometimes we feel we have been dragged into it and really want to avoid situations where gossip takes place, and though we really want to do it, we don’t know how toget out of the conversation let alone put a stop to it. Here are some tips to help you out insha’Allah:

1. Praise the person being talked about
Witness your imaan increase up as you defend them as the Prophet (peace be upon him) said:

“whoever defends his brother’s honour, Allah will protect his face from the Fire of the Day of Resurrection.” (Tirmidhi)

There may be that moment just before speaking up in which you hesitate, but muster up some courage: once you get the first few words out, you will feel good about doing the right thing and people will realize that they are engaging in wasteful talk.

2. Invite truth from each other
Though it might be quite an outrageous act at first, you could ask the one who is gossiping to actually come with you and check the truth about what they are saying in the presence of the one they talked about! You don’t really need to go and verify but this is an action which is really part of the Sunnah, for we should prevent lying about one another and tarnishing people’s reputation especially if it is based on rumours.

3. Explain it’s none of your concern:
This is probably the hardest part we stumble upon when a group of friends slip into gossip, however we should imply that it‘s none of the gossiper’s business to discuss other people affairs unless it is in a permissible manner. If you can encourage someone to not speak about others badly, then you can also tell them that it does not interest you or is irrelevant to you – instead find a mutual topic of interest to discuss other than people!

Al Hasan Al Basri said: “A sign that Allah has turned away from a servant is that He makes him busy with matters that are of no concern to him.”

4. Put yourself in their shoes

Asking the person gossiping( or even ourselves for that matter) the question: “How would I feel if this vicious rumour was said about me?” should make one regain some sense of integrity and put himself in the position of the one he just spoke against, hopefully repelling him/her from talking about another.

5. Change the topic

If you’ve tried the steps above and still find someone engaging in gossip about useless matters, find something else to talk about; take the lead in bringing up a subject you know they are interested in, or ask them to tell you about themselves.

6. Leave
If all else fails and you’ve tried to pull out all of the above tips– simply excuse yourself and leave the gathering. For Allah has advised us in the Quran:

When you see men engaged in vain discourse about Our Signs, turn away from them unless they turn to a different theme. If Satan ever makes you forget, then after recollection, do not sit in the company of those who do wrong.” [Al-An’am 6:68]

How to stop yourself from gossiping?

What about if it’s you who’s responsible for the vain talk?

Hold your breath and recall these tips before saying a word.

1. Remember backbiting is a major sin in Islam and is one of the causes for entering the Hellfire.

2. Ask yourself:
“Would the person I am about to speak of like what I’m going to say? Would I say it if the person was present?
Will I feel good about myself after saying it?”

You can save yourself some guilt ridden apologies later by simply asking these questions to yourself. In addition, you can try to think about how you felt the last time you found out that people were speaking badly or falsely about you.

3. Is it useful for anyone to know?
Allah Most High has said: “Successful are the believers, who are humble in their prayers, and who turn away from pointless talk” [23:1-3] And “Those who do not bear witness to what is false, but when they pass by pointless talk, pass by with dignity” [25:72], “When they hear pointless talk, they turn away from it” [28:55]

These verses describe the characteristics we should embody in speech. A top tip to help you is to cut short telephone conversations and keeping chat to essential things.

4. Is it necessary for anyone to know?
Even if it is, does it require your intervention? Often it is the trick of shaytan when we indulge in backbiting, as we seem to feel better about ourselves if we downgrade others. Instead ask yourself how we can improve our own character and lives.

5. Imagine that the person you are talking about can hear everything you are saying. However, know that Allah Ta’ala is The All-Seeing, All-Hearing, and All-Knowing. We should not forget about Day on which we will be held accountable for our deeds. Remember backbiting is a bad reflection on your own character.

6. Be mindful of the company you keep Keep away from people who usually turn to gossip. Recall the times in which you usually find yourself gossiping and keep yourself busy during that time with other tasks or even better – invite friends to learn about the grave consequences of gossiping!

7. Are you 100% sure about it?
Spreading false information is slander as it is creating discord and problems between Muslims. As we are told in the Quran:

Why, when you heard it, did not the believing men and believing women think good of themselves [i.e. one another] and say: ‘This is an obvious falsehood’?” [24:12]

8. Rejoice at the time and reward you’ll gain by stopping this nasty habit not to mention the good deeds you will accumulate to efface the bad ones. You‘ll be surprised about the time, energy, and faith boost you will gain in this life, and the reward that awaits you in the akhirah insha’Allah.

9. Look for positive qualities in people. If you really have to talk about someone who’s not there, talk about how great, hardworking, funny, humble they are instead of deficiencies; as I often say ‘we are always quick to find imperfections in others but not ourselves’.

10. If you feel you have to say it to someone and that you can’t keep the news for yourself, write it in your diary or on a private piece of a paper. Reread it after a couple of days and evaluate if you still want to let the world know you are not trustworthy enough to keep a confidential fact to yourself! Discard of the paper, and of the thought in your mind – disciplining your thoughts to be good of others should be instilled instead.

11. Repent and make the intention to stop, you could keep the verses and ahadith about the punishment of this sin on your wallpaper or screen to remind you at work (where people politics can enter!). Lastly make dua’a to Allah (Subhanahu Wa Ta’ala)to help you and while it takes effort, don’t give up:

“Whosoever believes in Allaah and the Last Day, then let him speak good or remain silent.” [Al-Bukhari]

And the Prophet (Peace and blessings be upon him) was asked: “O Messenger of Allah, which of the Muslims is best?” He (peace and blessings be upon him) said: “He whose tongue and hand the Muslims are safe from.” [Al Bukhari and Muslim]

What about if someone is gossiping about you?
Send them a gift. They are providing you with rewards!

Someone was told: “So-and-so has gossiped about you” so he sent him a dish of dates, with the message: “I heard that you had given me your rewards as a gift, and I want to return the favour; please excuse me for not being able to pay back in full!”

Whilst this is amusing, it bears great dignity for one to befriend the one who has backbitten him

To conclude, make the intention to purify your heart today by applying these practical tips to stop wasting your life on a grave act. Share other tips you have here below!

Kebaikan seorang Fasik

Pada suatu hari seorang oemuda yang terkenal sebagai seorang FASIQ meninggal dunia. Tidak ada seorang pun yang mahu menguruskan jenazahnya. Isterinya lalu membayar dua orang untuk memikul jenazahnya ke masjid untuk disholati. Namun, tidak ada seorang pun yang mahu mensholati jenazah si fasiq tadi.

Akhirnya, sang isteri membawa jenazah tersebut ke tengah padang yang luas untuk dikebumikan. Di situ, ada seorang ahli zuhud yang tinggal di gunung. Dia seolah-olah menunggu kedatangan jenazah si fasiq tadi.

Tersebarlah cerita si zuhud turun untuk mengerjakan solat jenazah untuk si fasiq tadi hingga penduduk sekitar situ turut turun melakukan sholat jenazah kepada si fasiq tadi.

Seusai sholat, penduduk hairan, mengapa si zuhud mahu mensholati jenazah si fasiq. Mereka pun bertanya hal itu kepada si zuhud. "Aku mendengar dalam mimpiku, agar aku mensholati si fulan kerana ia diampuni Allah", jawab si zuhud.

"Bagaimana perilaku jenazah semasa hidupnya?", tanya si zuhud kepada isteri jenazah si fasiq tadi.

"Orang mengenal suamiku memang sebagai ahli maksiat dan sering mabuk," Jawab si isteri.

"Cubalah teliti kembali, apakah dia memiliki kebaikan-kebaikan?", si zuhud bertanya lagi.

"Ya, tiga hal. Pertama, bila dia sedar dari mabuknya di waktu subuh, dia segera mengganti pakaian, berwudhu dan ikut solat subuh berjemaah. Kedua, di rumah tak pernah sepi dari satu atau dua anak yatim. Kasih sayangnya pada anak yatim melebihi pada anaknya sendiri. Bila tak menemukan anak yatim, dia akan mencari. Ketiga, dia pernah sedar dari mabuknya di malam hari. Kemudian menangis dan berkata," Ya Tuhanku, letak neraka Jahannam mana yang Kau kehendaki untuk meletakkan orang terkutuk ini?", jawab wanita itu tentang suaminya.